Oleh: Luqman Elhadi Aktivis pergerakan Mahasiswa
“Apakah “KaburAjaDulu” sebagai jalan yang benar?”
“Kalau di Indonesia semakin sulit, apakah pergi ke luar negeri berarti sudah tidak nasionalis?”
Pertanyaan tersebut akhir-akhir ini menjadi semakin relevan ketika media sosial Indonesia sempat diramaikan oleh tagar #KaburAjaDulu. Ungkapan yang awalnya terlihat seperti candaan di media sosial kini berkembang menjadi ruang bagi anak muda untuk membicarakan pekerjaan, pendidikan, upah, kualitas hidup, hingga peluang hidup untuk membangun masa depan di luar negeri. Fenomena tersebut bukan sekadar tren digital. Penelitian mengenai #KaburAjaDulu menunjukkan bahwa tagar tersebut merefleksikan keresahan sosial, tekanan hidup, serta keinginan sebagian generasi muda untuk mencari kesempatan yang dianggap lebih baik di negara lain (Octaviani et al., 2025).
Dari sinilah sebuah pertanyaan besar muncul: apakah nasionalisme generasi Z diindonesia benar-benar mulai hilang, atau justru konsep nasionalisme yang selama ini kita gunakan sudah tidak relevan dengan zaman?
Pertanyaan tersebut muncul karena nasionalisme tidak lagi berhadapan dengan penjajahan dengan senjata dan pendudukan wilayah seperti pada era pra-Kemerdekaan, apalagi Generasi sekarang menghadapi dunia yang jauh lebih terbuka. Internet memungkinkan seseorang mengetahui kualitas pendidikan negara lain, membandingkan gaji, melihat peluang pekerjaan, hingga mempelajari kehidupan bermasyarakat di berbagai negara hanya melalui telepon genggam.
Globalisasi membuat batas antarnegara semakin tipis. Namun, pada saat yang sama, kondisi tersebut membuat generasi muda semakin sadar bahwa mereka memiliki pilihan antara tetap tinggal dengan problematika yang ada diindonesia atau pergi dicap sebagai tidak Nasionalisme.
Nasionalisme yang Berubah Bentuk
Pada masa perjuangan, nasionalisme memiliki bentuk yang jelas. Masyarakat mempertahankan tanah air dari penjajahan dan memperjuangkan berdirinya negara yang merdeka.serta mempertahankan kemerdekaanya. Setelah itu, bentuk nasionalisme berkembang menjadi menjaga persatuan, mempertahankan Pancasila, menghormati keberagaman, serta membangun negara.
Namun, nasionalisme pada abad ke-21 tidak dapat berhenti pada simbol-simbol saja.
Mengibarkan bendera, mengikuti upacara, menghafalkan Pancasila, dan menyanyikan lagu kebangsaan memang penting sebagai bagian dari identitas nasional. Akan tetapi, nasionalisme juga harus ada secara nyata dalam kehidupan sehari-hari seperti bekerja secara jujur, menjaga lingkungan, menghargai perbedaan, menghasilkan karya, menggunakan teknologi dengan penuh tanggung jawab, serta memberikan kontribusi bagi masyarakat.
Dengan demikian, nasionalisme seharusnya tidak hanya diukur berdasarkan seberapa cinta kita dengan Indonesia, akan tetapi juga berdasarkan apa yang kita lakukan untuk Indonesia.
KaburAjaDulu: Hilangnya Nasionalisme atau Hilangnya Harapan?
Fenomena #KaburAjaDulu menjadi menarik karena memperlihatkan hubungan antara nasionalisme dan harapan terhadap masa depan Masyarakat. Tagar tersebut menjadi ramai digunakan untuk berbagi informasi mengenai pekerjaan, pendidikan, dan kesempatan hidup di luar negeri. Sejumlah pengamat menilai fenomena tersebut berkaitan dengan kesadaran anak muda terhadap kesenjangan kualitas hidup antarnegara. Kemajuan teknologi memungkinkan mereka membandingkan kesempatan yang tersedia di Indonesia dengan di negara lain secara langsung (Hardiantoro, 2025).
Karena itu, menyebut anak muda yang ingin pergi ke luar negeri sebagai “tidak nasionalis” merupakan kesimpulan yang terlalu sederhana.
Seseorang yang belajar di luar negeri belum tentu meninggalkan Indonesia. Seseorang yang bekerja di Jepang, Australia, Jerman, dan negara-negara lainnya juga belum tentu kehilangan rasa cinta terhadap tanah air. Bahkan, pengalaman tersebut dapat menjadi modal untuk membawa ilmu, jaringan, dan kemampuan baru ketika kembali ke Tanah Air, sehingga bisa mengimplementasikanya di Indonesia.
yang menjadi masalah lebih besar justru muncul ketika anak muda merasa bahwa Indonesia tidak lagi mampu memberikan alasan yang cukup untuk diperjuangkan.
Dalam konteks tersebut, #KaburAjaDulu dapat dipahami sebagai alarm sosial. Ia memperlihatkan adanya keresahan sebagian generasi muda terhadap masa depanya, sekaligus menunjukkan bahwa nasionalisme tidak dapat dipisahkan dari kondisi sosial dan ekonomi masyarakat (Sofia, 2025).
Dengan kata lain, persoalannya bukan hanya tentang anak muda yang ingin “kabur”. Persoalannya adalah mengapa mereka merasa harus mencari masa depan dinegara lain?
Indonesia di Tengah Budaya Global
Selain persoalan ekonomi dan kesempatan kerja, globalisasi juga membawa tantangan tersendiri terhadap identitas budaya.
Generasi muda saat ini dapat mengakses berbagai budaya dunia luar hanya dengan beberapa kali sentuhan di layar hp, seperti halnya Musik, film, makanan, bahasa, pakaian, dan gaya hidup dari berbagai negara dapat dengan cepat di akses dan menjadi tren di Indonesia.
Hal tersebut sebenarnya bukan sesuatu hal yang harus ditakuti. Pertukaran budaya merupakan bagian dari kehidupan global. Masalahnya muncul apabila masyarakat menerima budaya asing tanpa memilah dan mengenal terhadap budaya sendiri.
Indonesia memiliki ribuan identitas budaya yang sangat beragam. Mulai dari Bahasa daerah, kesenian tradisional, makanan khas, pakaian adat, hingga nilai gotong royong merupakan kekayaan yang membentuk identitas bangsa Indonesia. Kementerian Sekretariat Negara menekankan bahwa Generasi Z memiliki posisi yang strategis dalam mempertahankan budaya lokal. Teknologi dan media sosial justru dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan budaya Indonesia dengan cara yang kreatif dan sesuai dengan perkembangan zaman (Sekretariat Negara Republik Indonesia, 2025).
Artinya, yang menjadi persoalan bukan apakah generasi muda boleh menyukai budaya asing?.
Tentu saja boleh.
Yang perlu dipastikan sekarang adalah jangan sampai generasi muda mengenal dunia begitu luas, tetapi justru tidak mengenal Budaya sendiri yang menjadi Rumah dan indentitas diri.
Mencari Kembali “Indonesia” yang Mulai Hilang
Lalu, konsep Indonesia seperti apa yang sebenarnya mulai hilang?
Yang pastinya bukan bendera. Bukan pula bahasa Indonesia atau lagu kebangsaan.
Yang mulai hilang adalah rasa memiliki terhadap indentitas bangsanya sendiri.
Rasa bahwa Indonesia adalah tempat yang perlu diperbaiki, bukan sekadar tempat yang harus ditinggalkan ketika keadaan menjadi sulit dan tidak menentu.
Luqman elhadi Aktivs Pergerakan Mahasiswa juga Menambahkan seharusnya sebagai bangsa yang majemuk masyarakat menanamkan rasa saling memiliki terhadap identitasnya sendiri, nasionalisme bukan sekadar tentang tinggal di Indonesia, tetapi tentang rasa memiliki dan kemauan untuk memperbaikinya, bukan malah pergi ketika negara sedang membutuhkan.
Rasa memiliki membuat seseorang tidak hanya bertanya, “Apa yang bisa Indonesia berikan kepada saya?”, tetapi juga, “Apa yang bisa saya berikan untuk Indonesia?”, Ujarnya.
Pertanyaan kedua inilah yang menjadi inti nasionalisme modern.
Seharusnya jika generasi muda memiliki kemampuan ilmu teknologi, maka kemampuan tersebut hendaknya dapat digunakan untuk menciptakan inovasi bagi masyarakat. Jika memiliki kemampuan bisnis, mereka dapat mengembangkan produk lokal agar mampu bersaing di pasar global. Jika memiliki kemampuan seni, mereka dapat membawa budaya Indonesia ke panggung internasional.
Nasionalisme pada akhirnya tidak lagi hanya berbentuk slogan, melainkan juga berbentuk menjadi sebuah karya.
Menjadi Warga Bumi Tanpa Kehilangan Indonesia
Globalisasi tidak mungkin dihentikan. Dunia akan terus mengalami perkembangan, teknologi menjadi semakin maju, dan interaksi antarnegara akan semakin intensif, oleh karena itu, Indonesia tidak membutuhkan generasi muda yang takut terhadap dunia luat, akan tetapi membutuhkan generasi muda yang mampu masuk ke dunia global tanpa kehilangan identitasnya sebagai bangsa yang majemuk,
Mereka boleh belajar dari negara lain, tetapi tidak harus menganggap semua yang berasal dari luar lebih baik. Mereka boleh bekerja di luar negeri, tetapi tetap dapat berkontribusi bagi Indonesia.
Inilah bentuk nasionalisme yang lebih relevan pada era globalisasi: bukan nasionalisme yang menutup diri, melainkan nasionalisme yang memiliki akar kuat tetapi tetap mampu tumbuh mengikuti arus perkembangan zaman.
Nasionalisme Tidak Hilang, melainkan Sedang Mencari Bentuk Baru
Pada akhirnya, fenomena #KaburAjaDulu seharusnya tidak hanya dilihat sebagai ancaman terhadap nasionalisme. Fenomena tersebut justru dapat menjadi cermin bagi Indonesia.
Jika anak muda ingin pergi karena mencari pendidikan yang lebih baik, maka Indonesia harus memperbaiki kualitas pendidikannya. Jika mereka mencari pekerjaan dengan penghasilan dan perlindungan yang lebih baik, maka kesempatan kerja dan kesejahteraan perlu diperkuat. Jika mereka merasa tidak didengar, maka ruang partisipasi generasi muda harus diperluas.Nasionalisme tidak dapat tumbuh hanya dengan meminta generasi muda untuk mencintai Indonesia. Pemerintah juga harus memberikan alasan bagi generasi mudanya untuk percaya bahwa negeri ini layak dicintai dan diperjuangkan.
Maka, pertanyaan yang tepat bukanlah, “Mengapa mereka ingin kabur?”
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
“Apa yang harus kita lakukan agar mereka tetap ingin membangun Indonesia?”
Mungkin konsep Indonesia yang mulai hilang bukanlah rasa cinta terhadap tanah air, melainkan keyakinan bahwa masa depan Indonesia masih dapat diperjuangkan atau tidak.
Jika keyakinan itu dapat dikembalikan, rasa Nasionalisme tidak akan mati di tengah gempuran globalisasi. Ia justru akan menemukan bentuk baru Indonesia yang terbuka terhadap dunia, tetapi tidak kehilangan jati dirinya Indonesia yang mampu bersaing secara global, tetapi tetap berpijak pada nilai kebersamaan dan Indonesia yang tidak hanya meminta generasinyauntuk tinggal, tetapi juga memberikan alasan bagi mereka untuk memilih membangun negeri sendiri.
Penulis Luqman elhadi
